Rabu, 04 Agustus 2010

Pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor

Balai pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, tempat mendidik pemuda-pemuda dan tempat pemuda belajar ilmu pengetahuan, Agama dan Umum. Lembaga Pendidikan ini diselenggarakan oleh pendiri dan pengasuh-pengasuhnya, bebas dari pengaruh segala aliran-aliran politik ataupun faham golongan-golongan.

BERJIWA PONDOK, BERSISTEM MODERN

Lembaga-Pendidikan ini berbentuk “PONDOK” atau “PESANTREN” dengan suatu komplek tempat-tempat kediaman para siswa dan pengasuh-pengasuhnya, tempat belajar dan beribadah, tempat-tempat berekreasi, berolah raga dan sebagainya, beserta segala alat perlengkapannya.
Pendidikan di Pondok Modern mengutamakan pembinaan akhlaq, pembentukan mental/karakter (character-building). Pelajarannya diselenggarakan menurut sistem sekolah yang modern, dengan menggunakan metodik dan didaktik modern, serta senantiasa memperhatikan perkembangan dalam sistem pendidikan dan pengajarannya.

Itulah sebabnya masyarakat menamakan lembaga ini “PONDOK MODERN”; yang “modern” bukanlah tentang i‘tikadnya atau fahamnya dalam soal-soal keagamaan, melainkan mengenai SISTEM PENDIDIKAN dan PENGAJARAN yang digunakan.
Nama “PONDOK MODERN” adalah nama pemberian dari masyarakat. Adapun nama asli yang diberikan oleh pendirinya sendiri (didirikan pada tahun 1926) ialah “DARUSSALAM”.

KAMPUNG DAMAI

Pondok Modern terletak di sebuah desa, GONTOR namanya. Itulah sebabnya Pondok Modern biasa juga disebut “PONDOK GONTOR” atau “PONDOK MODERN GONTOR”. Desa ini terletak jauh dari kota ramai, yaitu lebih kurang 10 kilometer arah selatan dari kota Ponorogo, atau 40 kilometer dari kota Madiun (Jawa Timur).
Pondok Modern merupakan suatu lingkungan pendidikan yang diliputi suasan tentram dan damai, sesuai dengan namanya “DARUSSALAM” artinya ‘KAMPUNG DAMAI’ akan tetapi kedamaiannya bukanlah semata-mata disebabkan oleh letaknya yang jauh dari pengaruh keramaian kehidupan kota, melainkan juga oleh karena dinamika kehidupan di dalamnya yang diliputi oleh suasan UKHUWWAH, GOTONG ROYONG, SEMANGAT BERKORBAN, dan PENUH KEIKHLASAN.
Pemuda-pemuda dari berbagai daerah dan suku bangsa Indonesia juga dari berbagaqi golongan, hidup rukun dan damai. Di Pondok Modern persatuan Nasional “BHINNEKA TUNGGAL IKA” benar-benar dipraktekkan sejak dahulu.

RIWAYATNYA: PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTI

Pada akhir abad yang lalu, sebenarnya di desa Gontor telah ada sebuah Pondok atau Pesantren yang agak besar. Tetapi di dalam suasana penjajahan, Pondok tersebut mengalami kemunduran dan semakin lama semakin jauh dari kehidupan masyarakat, seperti halnya Pondok-pondok yang lain pada masa itu. Akhlaq ummat menjadi rusak pula, karena terlepas dari ajaran-ajaran agama.
Dengan rahmat Allah SWT timbullah kesadaran di antara keturunan kyai Pondok tersebut terhadap kemunduran pendidikan dan pengajaran Islam serta kerusakan akhlaq masyarakat yang sangat menyedihkan itu. Timbul niat di dalam hati beliau hendak membangun kembali Pondok yang hidup segan matipun tak mau itu. Maka diselidikilah sebab-sebab kemunduran itu, dan ditempuhlah jalan baru ke arah kemajuan pendidikan dan pengajaran Agama Islam.
Dengan kebulatan tekad, mulailah beliau menceburkan diri ke dalam pendidikan dan pengajaran Agama Islam dengan mendirikan dan membangun kembali Pondok Gontor pada tahun 1344 H/1926 M.

DARI DORONGAN RASA CINTA DAN TANGGUNG JAWAB

Dengan tekun, pendiri Pondok Modern (tiga bersaudara: Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi) bermujahadah membangun pendidikan dan pengajaran Islam dengan cara baru/modern,
-    Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa.
-    Rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan dan kelanjutan usaha bapak-bapak dan ulama-ulama kita yang terdahulu dalam menyiarkan ajaran dan kebudayaan Islam.
-    Rasa berkewajiban menunaikan tugas suci menegakkan KALIMAT ILAHI dengan semata-mata karena mengharapkan keridhaan-Nya.
-    Kesadaran terhadap hajat Ummat Islam kepada pemimpin-pemimpin dan Ulama-ulama yang cakap dan jujur.
-    Untuk kebahagiaan/kesejahtreraan ummat manusia.
Hal-hal itulah yang mendorong pendiri Pondok Modern untuk membangun kembali Pondok Gontor tadi. Hal-hal itu pulalah yang telah membangkitkan semangat berjuang, dan keikhlasan hati dalam segala gerak-usaha beliau di bidang pendidikan dan pengajaran ini.
Kesemuanya itu untuk keselamatan dan kesejahteraan ummat Islam khususnya, dan kebahagiaan umat manusia pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar