Salah satu upaya adalah membiasakan pola perilaku mencintai lingkungan pada anak - anak sejak dini sehingga diharapkan akan terjadi perubahan pola pikir, sikap dan perubahan perilaku secara terus menerus, sehingga kebiasaan menjadi suatu kegiatan spontanitas bukan suatu kegiatan yang harus diperingatkan. Anak - anak pra sekolah hingga dewasa sangat diharapkan bisa mengenal, membuang dan mengelola sampah dari lingkungan yang terkecil sebagai sumber sampah yaitu rumah tinggalnya. Dalam hal ini peran aktif dari Pemerintah dan partisipasi masyarakat dewasa sangat diharapkan baik dimulai dari kegiatan rumah tangga, sekolahan dan tempat - tempat umum lainnya mengingat dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk sebuah pendidikan agar menjadi pengetahuan kata hati.
Menumbuhkan perilaku untuk mencintai lingkungan didalam l keluarga mulai pra sekolah akan memberikan kesan yang sangat kuat dalam proses pendidikan anak anak kita.menanam pohon,bunga serta merawatnya setiap hari dan mengelola sampah yang dihasilkan sendiri akan memberikan dampak keindahan dirumah yang sekaligus secara berkelanjutan sesorang akan mencintai lingkungan secara lokal dan global.
Diawali dari permasalahan sampah yang pada tahun - tahun terakhir ini sedang menjadi trend di negeri kita, terjadi penumpukan sampah yang luar biasa dan tidak tertangani dikota - kota besar di Indonesia. Akan tetapi apabila kita mau jujur menyadarinya permasalahan sampah ini telah terjadi dimana - mana tidak hanya dikota - kota besar yang ditayangkan di TV, dimulai dari rumah kita sampah kita buang di tempat penampungan sampah sementara (TPS) diluar rumah kita, memang permasalahan sampah didalam rumah kita selesai dan rumah kita menjadi bersih dari sampah, akan tetapi apakah kita tidak pernah berfikir kalau sampah yang barusan kita buang dari rumah akan menimbulkan permasalahan di tempat lain ? yang artinya kita hanya memindahkan masalah saja, sampah menumpuk di tempat penampungan sampah sementara (TPS) kemudian dipindahkan oleh petugas kebersihan kota ke tempat penampungan sampah akhir (TPA), pernahkah kita berfikir siapa yang akan perduli dengan sampah - sampah yang tidur di TPA ini tanpa pengelolaan yang benar dan pernahkah kita berfikir bagaimana nasib simpanan sampah - sampah kita ini yang dari hari ke hari semakin bertambah dan menumpuk tanpa tau siapa yang perduli terhadapnya.
Apabila sampah - sampah yang luar biasa ini mulai mencari perhatian terhadap manusia, barulah manusia menyadari ketidak perduliannya selama ini terhadap sampah dan mulai menimbulkan kepanikan dan menghantui di mana - mana tanpa tau apa yang harus dilakukan. Maka dari itu bagaimana kalau kita cintai sampah sejak sampah - sampah ini masih tinggal bersama kita di rumah kita masing - masing. Peranan anak - anak sejak dini dalam mencintai lingkungan khususnya sampah sangat diharapkan, pola perilaku anak - anak dalam memperlakukan sampah dengan benar sangat penting baik sedang berada di rumah dan tempat - tempat umum di luar rumah, apabila mencintai sampah sudah menjadi hal yang biasa dan ihklas yang dilakukan oleh anak - anak, orang dewasa hingga orang tua, pastilah sampah - sampah ini tidak akan berteriak dan menangis mencari perhatian manusia, dan apabila telah terjadi hubungan yang harmonis antara sampah dan manusia lingkungan kita akan damai dan manusia tidak lagi resah.
Akan tetapi gejala pola perilaku yang kurang mencintai lingkungan khususnya sampah telah terjadi pada beberapa generasi terdahulu pada masyarakat kita. Bagaimana merubah perilaku ini agar terjadi suatu hubungan yang harmonis antara sampah dan manusia bisa terjalin dengan baik. Untuk mewujudkan cita - cita ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, generasi termuda atau anak - anak pada masyarakat kita akan menjadi sasaran yang baik sebagai " agent of cultur change " untuk merubah kebiasaan/membiasakan pola perilaku mencintai lingkungan khususnya sampah sehingga diharapkan dari generasi ke generasi mempunyai pola perilaku yang sama dan akan menjadi suatu budaya.
Mengingat kegiatan anak - anak cukup banyak dihabiskan di sekolah - sekolah sehingga peranan sekolah dalam membiasakan pola perilaku mencintai lingkungan pada anak - anak sejak dini sangat penting dan Pemerintahan di harapkan juga berperan aktif dalam hal ini terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana salah satunya adalah memasukkan pendidikan lingkungan pada program kurikulum sekolah. Bagaimana kita mencintai sampah, kita perlakukan sampah dengan baik sejak dari rumah sebagai sumber sampah, dimulai dengan pemisahan sampah organik dan an organik, anak - anak dirumah diharapkan sudah mengerti perbedaan antara sampah organik dan an organik sehingga mereka bisa memanen atau " harvesting " sampah di rumah masing - masing.
Dengan demikian sampah yang akan sampai ke TPS dapat dikurangi, sampah - sampah yang tadinya merupakan barang buangan yang tidak berguna dan tercampur aduk akan mempunyai nilai ekonomi kembali, sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos kemudian sebagian buangan dari jenis sampah anorganik seperti kertas, botol, dll bisa dijual ke pengepul yang oleh mereka akan di daur ulang kembali, sampah yang tadinya kusam yang kita anggap tidak berharga dan seram akan bisa tersenyum kembali dan pasti akan mengucapkan terima kasih kepada kita yang telah mencintainnya. Bisakah hubungan yang harmonis ini akan terjalin dengan baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar